Bahasa Indonesia
English
You are here
UNY Kembangkan Rambu K3 Edukatif Berbasis Risiko, Dorong Budaya Kerja Aman Mahasiswa Teknik Mesin
Kulon Progo — Tim peneliti Fakultas Vokasi Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) mengembangkan rambu Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) edukatif berbasis analisis risiko untuk mendukung pembelajaran praktik yang lebih aman di bengkel teknik mesin. Penelitian bertajuk “Pengembangan Rambu Keselamatan dan Kesehatan Kerja Edukatif Berbasis Risiko di Bengkel Praktik Program Studi Sarjana Terapan Teknik Mesin” ini dipimpin oleh Ir. Prihatno Kusdiyarto, M.Eng., Ph.D., dengan melibatkan dosen dan mahasiswa Program Studi Sarjana Terapan Teknik Mesin Fakultas Vokasi UNY.
Penelitian dilatarbelakangi oleh karakteristik bengkel teknik mesin yang memiliki beragam potensi bahaya, mulai dari benda berputar, serpihan logam, panas dan radiasi, energi listrik, gas, hingga penggunaan perkakas tangan. Hasil identifikasi menunjukkan bahwa risiko prioritas terutama ditemukan pada aktivitas pemesinan, penggerindaan, dan pengelasan. Pada area pengelasan, misalnya, risiko tinggi meliputi kebakaran, kebocoran gas, sengatan listrik, radiasi ultraviolet, percikan api, ledakan, dan serpihan logam.
Berbeda dengan rambu keselamatan yang bersifat umum, rambu yang dikembangkan dalam penelitian ini disusun berdasarkan bahaya dan tingkat risiko aktual pada setiap mesin maupun aktivitas praktik. Hasil identifikasi dan penilaian risiko kemudian diterjemahkan menjadi peta bahaya bengkel, peta tingkat risiko aktivitas dan mesin, serta desain rambu yang disesuaikan dengan kebutuhan pengguna.
Ketua peneliti, Ir. Prihatno Kusdiyarto, M.Eng., Ph.D., menjelaskan bahwa pendekatan berbasis risiko menjadi pembeda utama penelitian ini.
“Rambu K3 tidak seharusnya hanya dipasang sebagai kelengkapan administratif. Rambu perlu berangkat dari risiko nyata yang dihadapi mahasiswa ketika menggunakan mesin atau melakukan suatu pekerjaan. Dengan demikian, mahasiswa tidak hanya mengetahui bahwa suatu area berbahaya, tetapi juga memahami jenis bahaya dan tindakan pencegahan yang harus dilakukan,” ujarnya.
Rambu-rambu tersebut dikembangkan dengan memperhatikan kesesuaian pesan, warna, simbol, tipografi, keterbacaan, jarak pandang, dan lokasi pemasangan. Pada area pengelasan, desain mengacu pada prinsip warna dan simbol keselamatan seperti ISO 3864 dan ISO 7010 yang kemudian disesuaikan dengan kondisi aktual bengkel.
Produk yang dikembangkan selanjutnya divalidasi oleh ahli K3, ahli desain komunikasi visual, dan ahli teknik. Hasil validasi menunjukkan skor 3,80 dari ahli K3, 3,80 dari ahli desain komunikasi visual, dan 4,75 dari ahli teknik, dengan nilai rata-rata 4,12 yang masuk kategori layak. Masukan validator kemudian digunakan untuk memperbaiki redaksi pesan, warna, simbol, kontras visual, serta konteks penempatan rambu.
Salah satu dosen pengguna bengkel, Dr. Rivandra Rezani menilai keberadaan rambu yang dikaitkan langsung dengan karakteristik mesin dapat membantu dosen dalam membangun kebiasaan kerja aman sejak proses pembelajaran.
“Mahasiswa tidak cukup hanya diberi arahan K3 di awal praktik. Pesan keselamatan perlu terus hadir ketika mereka bekerja. Rambu yang ditempatkan dekat dengan sumber risiko membantu mengingatkan mahasiswa pada saat yang tepat, misalnya sebelum mengoperasikan mesin atau menggunakan peralatan tertentu,” jelasnya.
Uji coba terbatas menunjukkan bahwa mahasiswa mulai lebih memperhatikan rambu sebelum menggunakan peralatan. Simbol dan warna yang mencolok lebih cepat dikenali, sementara rambu yang menggunakan gambar dinilai lebih mudah dipahami dibandingkan pesan yang hanya berupa tulisan. Implementasi rambu juga mendorong perhatian terhadap penggunaan alat pelindung diri (APD), pemeriksaan peralatan, dan prosedur keselamatan sebelum kegiatan praktik.
Fauzan, mahasiswa pengguna bengkel menyampaikan bahwa rambu yang berkaitan langsung dengan aktivitas praktik lebih mudah dipahami.
“Kalau rambu ditempatkan dekat dengan mesin yang digunakan, kami lebih cepat memahami apa yang harus diperhatikan. Simbol dan pesannya juga membantu mengingatkan penggunaan APD serta pengecekan kondisi alat sebelum mulai bekerja,” katanya.
Selain prototipe rambu, penelitian ini menghasilkan Atlas Rambu K3 Bengkel Teknik Mesin. Atlas tersebut memuat konsep K3 dan komunikasi visual, metode analisis risiko, peta bahaya, rambu berdasarkan jenis bahaya dan mesin atau area kerja, serta pedoman penggunaan dan SOP keselamatan. Atlas diharapkan tidak hanya menjadi panduan pemasangan rambu, tetapi juga menjadi media edukasi yang membantu mahasiswa memahami hubungan antara bahaya, risiko, lokasi kerja, dan tindakan pencegahan.
Melalui penelitian ini, tim berharap penerapan K3 di bengkel pendidikan tidak berhenti pada kepatuhan terhadap aturan, tetapi berkembang menjadi bagian dari budaya belajar dan budaya kerja mahasiswa. Pendekatan berbasis risiko tersebut juga berpotensi direplikasi pada berbagai bengkel pendidikan vokasi sesuai karakteristik mesin dan aktivitas praktik masing-masing.
Download
Pengisian Data :
Kontak Kami
Copyright © 2026,
