UNY Berdayakan KWT Marsudi Luhur Kampung Emas Kepuh Pacarejo Semanu Gunungkidul melalui Teknologi Sprayer Elektrik yang Efektif dan Aman

GUNUNGKIDUL – Aktivitas menyemprot tanaman yang selama ini membutuhkan tenaga cukup besar kini diharapkan menjadi lebih ringan bagi anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) Marsudi Luhur di Padukuhan Kepuh, Pacarejo, Semanu, Gunungkidul. Melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM), tim Fakultas Vokasi Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) mengenalkan teknologi sprayer elektrik sekaligus membekali anggota KWT dengan keterampilan penyemprotan tanaman yang efektif, aman, dan berkelanjutan.

Kegiatan bertajuk “Pemberdayaan Kelompok Wanita Tani Marsudi Luhur melalui Edukasi Penggunaan Alat Penyemprot Tanaman Pertanian yang Efektif dan Aman” tersebut merupakan PkM Institusional Program Studi Fakultas Vokasi UNY tahun 2026. Program dirancang tidak sekadar memberikan bantuan peralatan, tetapi juga meningkatkan kapasitas perempuan dalam menguasai teknologi pertanian dan menerapkan keselamatan kerja.

KWT Marsudi Luhur merupakan kelompok masyarakat produktif yang aktif mengelola kebun pertanian sebagai sumber pangan sekaligus penunjang ekonomi keluarga. Kegiatan kelompok antara lain berupa budidaya tanaman hortikultura dan tanaman pangan skala kecil. Hasil observasi awal menunjukkan bahwa kegiatan penyemprotan sebelumnya dilakukan menggunakan alat manual berkapasitas terbatas yang membutuhkan tenaga fisik relatif besar. Pemahaman mengenai keselamatan kerja, penggunaan alat pelindung diri (APD), serta pemeliharaan sprayer juga masih perlu ditingkatkan.

Persoalan tersebut menjadi dasar tim PkM dalam menawarkan penerapan sprayer elektrik portabel berkapasitas besar sebagai teknologi tepat guna. Teknologi ini diharapkan memudahkan pekerjaan penyemprotan sekaligus mengurangi beban fisik anggota KWT. Pengadaan alat kemudian dipadukan dengan edukasi dan pelatihan teknis berbasis praktik lapangan.

Ketua pelaksana PkM, Ir. Prihatno Kusdiyarto, S.Pd.T., M.Eng., Ph.D., mengatakan bahwa pemberdayaan dan kemandirian kelompok menjadi tujuan penting program tersebut.

“Pemberdayaan tidak cukup hanya dengan memberikan alat. Yang lebih penting adalah memastikan anggota KWT memiliki pengetahuan dan keterampilan untuk menggunakan, merawat, dan mengelolanya secara mandiri. Harapannya, teknologi ini benar-benar menjadi aset produktif yang memberikan manfaat dalam jangka panjang bagi KWT Marsudi Luhur,” ujar Prihatno.

Pelatihan dirancang dengan pendekatan praktis dan kontekstual. Peserta memperoleh pengetahuan mengenai prinsip kerja sprayer elektrik, kalibrasi sederhana, pengaturan tekanan, jarak dan arah penyemprotan, waktu aplikasi, hingga teknik menghasilkan penyemprotan yang merata. Selain itu, peserta dibekali kemampuan melakukan perawatan alat sehingga sprayer dapat digunakan secara optimal dan memiliki umur pakai yang lebih panjang.

Aspek keselamatan dan kesehatan kerja (K3) menjadi bagian penting dalam kegiatan tersebut. Anggota KWT diberikan edukasi mengenai risiko dalam aktivitas penyemprotan serta dibiasakan menggunakan APD seperti masker, sarung tangan, pelindung mata, dan pakaian kerja. Praktik penggunaan sprayer dengan prosedur yang benar dilakukan agar anggota kelompok tidak hanya mampu bekerja lebih efektif, tetapi juga semakin sadar terhadap perlindungan kesehatan diri selama melakukan kegiatan pertanian.

Ketua KWT Marsudi Luhur, Lusiana Nungri Hapsari, menyambut positif penerapan teknologi dan pelatihan tersebut. Menurutnya, sprayer elektrik memberikan kemudahan yang langsung dapat dirasakan dalam pekerjaan pertanian kelompok.

“Alat ini sangat membantu pekerjaan kami di kebun. Penggunaannya lebih praktis karena tidak perlu terus-menerus memompa secara manual. Melalui pelatihan ini anggota juga menjadi lebih memahami bagaimana menggunakan alat dengan benar dan aman. Kami berharap sprayer ini bisa dimanfaatkan dan dirawat bersama untuk mendukung kegiatan KWT Marsudi Luhur,” kata Lusiana.

Program tersebut tidak berhenti pada peningkatan kemampuan mengoperasikan alat. Tim PkM juga mendorong KWT Marsudi Luhur untuk membangun mekanisme pengelolaan sprayer sebagai aset produktif kelompok. Keberlanjutan program dirancang melalui penyediaan panduan sederhana penggunaan dan perawatan alat, penetapan penanggung jawab, penyusunan jadwal penggunaan bersama, komitmen pemeliharaan, serta komunikasi lanjutan antara tim PkM dan pengurus KWT.

Keberhasilan program juga dievaluasi secara terukur. Program menargetkan sedikitnya 80 persen peserta mampu menggunakan dan merawat sprayer sesuai panduan, sementara penggunaan APD ditargetkan mencapai 100 persen saat praktik. Evaluasi dilakukan selama maupun pada akhir kegiatan untuk mengetahui ketercapaian keterampilan peserta dan penerapan prosedur kerja yang aman.

Prihatno menambahkan, keberhasilan PkM pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh terlaksananya pelatihan, tetapi oleh keberlanjutan pemanfaatan teknologi di tingkat kelompok.

“Kami berharap setelah kegiatan selesai, keterampilan yang diperoleh tetap diterapkan dalam aktivitas pertanian sehari-hari. Ketika kelompok mampu mengoperasikan, merawat, dan mengelola alat secara mandiri, di situlah proses pemberdayaan benar-benar terjadi,” tambahnya.

Dorong Kesetaraan Gender dan Kesehatan

Lebih dari sekadar introduksi teknologi pertanian, program PkM ini juga memiliki keterkaitan dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Fokus utamanya adalah SDG 5 Kesetaraan Gender, melalui peningkatan kapasitas perempuan yang tergabung dalam KWT Marsudi Luhur agar semakin terampil dan mandiri dalam menguasai serta memanfaatkan teknologi pertanian. Proposal program memang menempatkan kesetaraan gender sebagai SDG utama yang disasar.

Penguasaan teknologi sprayer elektrik menempatkan perempuan bukan hanya sebagai pendukung kegiatan pertanian keluarga, tetapi sebagai pelaku produktif yang memiliki keterampilan teknis dan mampu mengelola teknologi serta aset kelompok. Program diharapkan turut meningkatkan kapasitas kelompok, kepercayaan diri anggota, dan keberlanjutan peran KWT dalam mendukung ketahanan pangan serta ekonomi keluarga.

Kegiatan ini sekaligus berkaitan dengan SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera. Edukasi K3, penggunaan APD, serta pembiasaan prosedur penyemprotan yang aman diarahkan untuk mengurangi risiko kesehatan dalam aktivitas pertanian. Dengan demikian, upaya meningkatkan produktivitas berjalan beriringan dengan peningkatan kesadaran anggota KWT terhadap kesehatan dan keselamatan kerja. Keterkaitan tersebut juga dinyatakan secara eksplisit dalam tujuan program.

Melalui kegiatan ini, kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat menunjukkan bahwa inovasi tidak selalu harus hadir dalam bentuk teknologi yang kompleks. Teknologi sederhana yang sesuai kebutuhan, ketika dipadukan dengan edukasi, praktik, pendampingan, dan pengelolaan yang baik, dapat memberikan perubahan nyata bagi masyarakat.

Bagi KWT Marsudi Luhur, sprayer elektrik bukan semata alat baru untuk menyemprot tanaman. Teknologi tersebut menjadi bagian dari proses peningkatan keterampilan, pengurangan beban kerja fisik, pembentukan budaya kerja yang lebih aman, sekaligus penguatan kemandirian perempuan dalam mengelola kebun pertanian secara produktif dan berkelanjutan.